Sabtu, 24 Maret 2012

pembahasan surat makiyah dan madaniyah


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebelum di angkat menjadi Rasul, Muhammad tidak mengetahui apa yang di maksud dengan Al-Kitab dan apa yang di maksud dengan Al-Imam. Diwaktu umur 40 tahun, Muhammad di angkat menjadi Rasul dan di turunkan wahyu kepadanya. Karena dalam usia itu manusia mencapai kematangan berfikir, ketenangan hati, dan kemantapan hati, serta telah mempunyai pengalaman luas.
Sesudah kita mengetahui umur Nabi di waktu turun wahyu pertama, dapatlah kita dengan berangsur-angsur mengikuti masa-masa turunnya Al-Qur’an, marhalah demi marhalah.
Para Orientalis sengaja memunculkan keraguan tentang umur Nabi ini, supaya perkembangan dakwah Islamiyah di Mekkah tidak dapat di ketahui dengan pasti dan untuk meremehkan pengetahuan-pengetahuan yang berpautan dengan marhalah-marhalah wahyu yang terus menerus turun di Mekah dan kemudian terus menerus turun di Madinah.
Sebenarnya kita lebih memperhatikan dan mengetahui mana ayat-ayat yang termasuk Makkiyah dan mana yang termasuk Madaniyah, serta mengetahui ayat-ayat yang turun di Makkah tapi di hukumi Madaniyah, dan ayat yang turun di Madinah tai di hukumi Makkiyah. Serta mengetahui ayat yang mempunyai cirri-ciri mirip Makkiyah dan Madaniyah.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa definisi Makkiyah dan Madaniyah?
2.      Bagaimana cara mengetahui surat Makkiyah dan Madaniyah?
3.      Apa perbedaan surat Makkiyah dan surat Madaniyah?
4.      Apa kegunaan ilmu Makkiyah dan Madaniyah?
5.      Bagaimana perhatian para Ulama’ terhadap ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah?



1.3  Tujuan Masalah
1.      Mengetahui definisi Makkiyah dan Madaniyah
2.      Mengetahui cara-cara menentukan antara Makkiyah dan Madaniyah
3.      Mengetahui perbedaan antara surat Makkiyah dan Madaniyah
4.      Mengetahui kegunaan ilmu Makkiyah dan Madaniyah
5.      Mengetahui perhatian para Ulama’ terhadap ayay-ayat Makkiyah dan Madaniyah

























BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ilmu Makkiyah dan Madaniyah
Ilmu al Makky wa al Madany di definisikan sebagai ilmu yang membahas klasifikasi surat-surat dan ayat-ayat yang di turunkan di Makkah dan Madinah. Di kalangan ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasar (kriteria) untuk menentukan makkiyah atau madaniah suatu surat atau ayat.[1]
Sebagian ulama menetapkan lokasi turun ayat / surat sebagai dasar penentuan makkiyah dan madaniah sebagai berikut :makkiyah ialah surat atau ayat yang di turunkan di Mekah sekalipun sesudah hijrah, sedangkan Madaniyah ialah surat atau ayat yang di turunkan di Madinah . Definisi ini ada kelemahannya (tidak jamik dan manik), karena hanya mencakup semua ayat dan surat yang turun di daerah Mekah dan surat yang turun di daerah Madinah. Tetapi definisi tersebut tidak bisa mencakup surat atau ayat yang turun di luar daerah Mekkah dan Madinah. Misalnya surat At-Taubah ayat 43 dan surat Al-Zuhruf ayat 45.
Ada pula ulama yang menyatakan orang (golongan) yang menjadi  sasaran ayat / surat sebagai kriteria penantuan makkiyah dan madaniah. Mereka mendefinisikan makkiyah ialah surat atau ayat yang khitabnya (seruannya) jatuh pada masyarakat Mekah, sedangkan Madaniyah ialah surat atau ayat yang khitabnya (seruannya) jatuh pada penduduk Madinah. Definisi ini di maksutkan bahwa ayat/surat yang di mulai dengan ya ayyuhannasu adalah makkiyah karena penduduk Mekah waktu umum nya masih kafir.
Ada pula ulama yang menetapkan, bahwa masa turun ayat/surat  adalah merupakan dasar penentuan makkiyah dan madaniyah, maka mereka mendefinisikan Makkiyah adalah ayat/surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunya di luar Makah Sedangkan  Madaniyah adalah surat atau ayat yang di turunkan sesudah Nabi hijrah, meskipun turunnya di Mekkah.[2] Definisi terahir inilah yang termasyhur (popular), karena mengandung bagian pembagian Makkiyah dan Madaniyah secara tepat.
Kendati definisi terahir ini di pandang paling sahih, namun secara objektif  harus di akui bahwa ketiga definisi ini mengandung tiga unsur yang sama : masa, lokasi dan sasaran ayat atau surat yang di turunkan. Bahkan mengandung unsur yang keempat, yakni topik (al maudhu’).

2.2 Cara-cara Mengetahui Surat Makkiyah dan Madaniyah
     Untuk membedakan antara surat Makkiyah dan Madaniyah dapat kita tentukan cirri-ciri yang khas untuk surat Makkiyah dan Madaniyah.
1.    Ciri khas surat Makkiyah
Sesuai dengan dhabit qiasi yang telah di tetapkan, maka ciri khas surat makkiyah ada dua macam, yaitu:
a.     Ciri yang bersifat qath’i.
b.    Ciri yang bersifat aghlabi.
Ada 6 ciri yang bersifat qath’i bagi surat makkiyah
a.    Setiap surat yang terdapat ayat sajdah di dalamnya, adalah surat makkiyah.         Sebagian ulama mengatakan, bahwa jumlah ayat sajdah ada 16 ayat.
b.    Setiap surat yang di dalamnya terdapat lafal “kalla”, adalah makkiyah
c.    Setiap surat yang terdapat di dalamnya lafal ya ayyuhannasu dan tidak ada ya ayyuhalladhinaamanu adalah makkiyah, kecuali surat al-hajj
d.   Setiap surat yang terdapat kisah-kisah para Nabi dan umat manusia yang terdahulu, adalah makkiyah kecuali surat al-Baqarah
e.    Setiap surat yang terdapat di dalamnya kisah Nabi Adam dan iblis adalah makkiyah, kecuali surat al-Baqarah
f.     Setiap surat yang di mulai dengan huruf tahajji (huruf abjad) adalah makkiyah, kecuali surat Al-Baqarah dan Al-Imran
Tentang surat al-Ra’dhu masih di permasalahkan, tetapi menurut pendapat yang lebih kuat, bahwa surar al-Ra’dhu itu makkiyah karena melihat gaya bahasa dan kandungannya.
Ada 5 ciri surat makkiyah yang bersifat aghlabi, yaitu:
a.    Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek (ijaz), dan nada perkataannya keras dan agak beranjak.
b.    Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah dan hari Kiamat dan menggambarkan keadaan surge dan neraka.
c.    Mengajak manusia untuk berahlak yang mulia dan berjalan di atas jalan yang baik (benar).
d.   Membantah orang-orang muyrik dan menerangkan kesalahan-kesalahan kepercayaan dan perbuatannya.
e.     Terdapat banyak lafal sumpah

2.    Ciri khas surat Madaniyah
Ciri-ciri khas yang membedakan antara surat madaniyah dan Makkiyah ada yang bersifat qath’I dan ada yang bersifat aghlabi
Ciri-ciri yang bersifat qath’I bagi surat Madaniyah antara lain :
a.    Setiap yang mengandung ijin  berijtihad (berperang ) menyebut hal perang dan menjelaskan hokum-hukumnya, adalah Madaniyah
b.    Setiap surat yang memuat penjelasan secara rinci tentang hokum pidana, faraid(warisan), hak-hak perdata, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perdata (civil), kemasyarakatan dan kenegaraaan adalah Madaniyah
c.    Setiap surat yang menyinggung hal ikhwal orang-orang munafik adalah Madaniyah, kecuali al-Ankabut yang di turunkan di Mekkah . hanya sebelas  ayat yang pertama dari surat al-Ankabut ini adalah Madaniyah, dan ayat-ayat tersebut  menjelaskan perihal orang-orang munafik.
d.   Setiap surat yang  membutuhkan kepercayaan/pendirian /tata cara keagamaan ahlul kitab (Kristen dan yahudi) yang di pandang salah, dan mengajak mereka agar tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan agamanya, adalah Madaniyah. Seperti surat Al-Baqarah, Ali Imran, al-Nisa’, al-Maidah dan al-Taubat.

Adapun ciri-ciri khas yang bersifat aghlabi bagi Madaniyah antara lain:
a. Sebagian suratnya panjang-panjang, sebagian ayat-ayatnya pun panjang-panjang (Ithnab) dan gaya bahasanya cukup jelas di dalam menerangkan hukum-hukum agama.
b. Menerangkan secara rinci bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan hakikat-hakikat keagamaan.[3]

2.3 Manfaat Ilmu Makkiy dan Madany
a.     Untuk di jadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penfsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dan yang mansukhbila di antara kedua ayat tersebut terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.
b.    Meresapi gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai gaya bahasa sendiri. Memperhatikan apa yang di kehendaki oleh situasi, merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya bahasa Makki dan Madani dalam Qur’an pun memberikan kepada orng yang mempelajarinnyasebuah metode dalam penyampaiyan dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kewajiban lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaannya serta mengatasi apa yang ada dalam dirinnya dengan penuh kebijaksanaan. Serta tahapan dakwah mempunyai topic dan pola penyampaian tersendiri. Pola penyampaian itu berbeda-beda, sesuai perbedaan tata cara keyakinan dan kondisi lingkungan. Hal yang demikian Nampak jelas dalam berbagai cara Qur’an menyeru berbagai golongan; orang yang beriman, yang musyrik, yang munafik dan Ahli Kitab.
c.     Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur’an sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwa, baik pada periode Makkah atau periode Madinah, sejak pemulaan turun wahyu hingga ayat terahir di turunkan. Qur’an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah. Peri hidup beliau di riwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan Qur’an ; dan Qur’an pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan.[4]

2.4 Perbedaan  Makkiyah dan Madaniyah
Untuk membedakan Makkiyah dan Madaniyah, para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasar sendiri.
1.    Dari segi turunnya. Makkiyah adalah yang di turunkan sebelum Hijrah meskipun bukan di Makkah. Sedangkan Madaniyah adalah yang di turunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Yang di turunkan sesudah hijrah sekalipun di Makkah dan Arafah, adalah Madani, seperti yang di turunkan pada tahun penaklukan kota Makkah
2.    Dari segi tempat turunnya. Makkiyah ialah yang turun di Makkah dan sekitarnnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah. Dan Madaniyah adalah yang turun di Madinah dan sekitarnnya, seprti Uhud, Quba, dan Sil. Namun pendapat ini berkonsekuensi tidak adanya pengecualian secara spesifik dan batasan yang jelas. Sebab, yang turun dalam perjalanan, seperti di Tabuk atau Baitul Makdis, tidak termasuk kedalam salah satu bagiannya, sehingga statusnya ytidak jelas, Makkiyah atau Madaniyah. Akibatnya yang di turunkan di Makkah walaupun sesudah hijrah, tetep di sebut Makkiyah.
3.    Dari segi sasarannya.  mendefinisikan Makkiyah ialah surat atau ayat yang khitabnya (seruannya) jatuh pada masyarakat Mekah, sedangkan Madaniyah ialah surat atau ayat yang khitabnya (seruannya) jatuh pada penduduk Madinah . berdasarkan pendapat ini para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang mengandung seruan “ ya ayyuhan-nas” (wahai manusia) adalah Makkiyah. Sedangkan ayat yang mengandung seruan “ya ayyuha-ladzina amanu” (wahai orang-orang yang beriman ) adalah Madaniyah.
Namun kalau di teliti dengan seksama ternyata kebanyakan kandungan Al-Qur’an tidak selalu di buka dengan salah satu seruan itu. Penetapan ini tidak konsisten. Misalnya surat Al-Baqarah ayat 21 dan An-Nisa itu di sebut Madaniyah tetapi di dalamnya terdapat ayat yang awalnya berbunyi , “ ya ayyuhan-nas” .[5]

2.5 Perhatian Para Ulama’ Terhadap Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah
Para ulama antusias untuk menyelidiki surat-surat Makkiyah dan Madaniyah. Mereka meneliti Al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi suratuntuk ditertibkan sesuai dengan turunnya dengan memperhatikan waktu, tempat, dan pola kalimat.
a.       Ayat-ayat Makkiyah dalam surat-surat Madaniyah
Dengan menamakan sebuah surat itu Makkiyah atau Madaniyah bukan berarti bahwa surat tersebut seluruhnya adalah Makkiyah atau Madaniyah. Sebab didalam surat Makkiyah terkadang terdapat ayat-ayat Madaniyah dan didalam surat Madaniyah terkadang terdapat ayat-ayat Makkiyah.
Diantara sekian contoh ayat-ayat Makkiyah dalam surat Madaniyah ialah surat Al-Anfal. Surat Al-Anfal adalah Madaniyah tetapi banyak ulama mengecualikan ayat,
øŒÎ)ur ãä3ôJtƒ y7Î/ z`ƒÏ%©!$# (#rãxÿx. x8qçGÎ6ø[ãŠÏ9 ÷rr& x8qè=çGø)tƒ ÷rr& x8qã_̍øƒä 4 tbrãä3ôJtƒur ãä3ôJtƒur ª!$# ( ª!$#ur çŽöyz tûï̍Å6»yJø9$# ÇÌÉÈ
30. Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
b. Ayat-ayat Madaniyah dalam surat Makkiyah
Misalnya surat Al-An’am. Ibnu Abbas berkata, “Surat ini diturunkan sekaligus di Makkah, maka ia adalah Makkiyah, kecuali 3 ayat yang diturunkan di Madinah, yaitu ayat 151-153,
* ö@è% (#öqs9$yès? ã@ø?r& $tB tP§ym öNà6š/u öNà6øŠn=tæ ( žwr& (#qä.ÎŽô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«øx© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) ( Ÿwur (#þqè=çFø)s? Nà2y»s9÷rr& ïÆÏiB 9,»n=øBÎ) ( ß`ós¯R öNà6è%ãötR öNèd$­ƒÎ)ur ( Ÿwur (#qç/tø)s? |·Ïmºuqxÿø9$# $tB tygsß $yg÷YÏB $tBur šÆsÜt/ ( Ÿwur (#qè=çGø)s? š[øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ö/ä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ ÷/ä3ª=yès9 tbqè=É)÷ès? ÇÊÎÊÈ Ÿwur (#qç/tø)s? tA$tB ÉOŠÏKuŠø9$# žwÎ) ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4Ó®Lym x÷è=ö7tƒ ¼çn£ä©r& ( (#qèù÷rr&ur Ÿ@øx6ø9$# tb#uÏJø9$#ur ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( Ÿw ß#Ïk=s3çR $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr ( #sŒÎ)ur óOçFù=è% (#qä9Ïôã$$sù öqs9ur tb%Ÿ2 #sŒ 4n1öè% ( ÏôgyèÎ/ur «!$# (#qèù÷rr& 4 öNà6Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ ÷/ä3ª=yès9 šcr㍩.xs? ÇÊÎËÈ ¨br&ur #x»yd ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#Î7y 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ
151.  Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).
152.  Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)[519], dan penuhilah janji Allah[520]. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.
153.  Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
c. Yang diturunkan di Makkah namun hukumnya Madaniyah
Mereka member contoh dengan firman Allah surat Al-Hujurat ayat 13
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ayat ini diturunkan di Makkah pada hari penaklukan kota Makkah, tetapi sebenarnya Madaniyah karena diturunkan setelah hijrah.
d. Ayat yang diturunkan di Madinah tetapi hukumnya Makkiyah
mereka member contoh dengan surat Al-Mumtahanah. Surat ini diturunkan di Madinah dilihat dari segi tempat turunnya, tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik penduduk Makkah.
e. Yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madaniyah
Yang dimaksud para ulama disini, ialah ayat-ayat yang terdapat dalam surat Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan cirri-ciri umum yang sepertisurat Makkiyah. Contohnya, adalah firman Allah dalam surat Al-Anfal yang Madaniyah,
øŒÎ)ur (#qä9$s% ¢Oßg¯=9$# bÎ) šc%x. #x»yd uqèd ¨,ysø9$# ô`ÏB x8ÏZÏã öÏÜøBr'sù $uZøŠn=tã Zou$yfÏm z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# Írr& $oYÏKø$# A>#xyèÎ/ 5OŠÏ9r& ÇÌËÈ
32.  Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, Maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih".
Hal ini dikarenakan permintaan kaum musyrikin untuk disegerakan adzab adalah di Makkah.
f. Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makkiyah
Yang dimaksud dengan para ulama ialah kebalikan dari yang sebelumnya. Mereka member contoh dalam surat An-Najm ayat 32
      tûïÏ%©!$# tbqç7Ï^tGøgs uŽÈµ¯»t6x. ÉOøOM}$# |·Ïmºuqxÿø9$#ur žwÎ) zNuH©>9$# 4 ¨bÎ) y7­/u ßìźur ÍotÏÿøóyJø9$# 4 uqèd ÞOn=÷ær& ö/ä3Î/ øŒÎ) /ä.r't±Sr& šÆÏiB ÇÚöF{$# øŒÎ)ur óOçFRr& ×p¨ZÅ_r& Îû ÈbqäÜç/ öNä3ÏG»yg¨Bé& ( Ÿxsù (#þq.tè? öNä3|¡àÿRr& ( uqèd ÞOn=÷ær& Ç`yJÎ/ #s+¨?$# ÇÌËÈ
32.  (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya. dan dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Dosa-dosa besar ialah setiap dosa yang mengakibatkan siksa neraka. Dan kesalahan-kesalahan kecil ialah apa yang terdapat diantara kedua batas dosa-dosa di atas. Sementara itu, di Makkah belum ada sanksi dan yang serupa dengannya.











BAB III
PEMBAHASAN
Kita sangat memerlukan ilmu yang berpautan dengan Makky dengan Madany karena surat-surat yang terdapat dalam Al-Qur’an adakala Makkiyah dan adakala Madaniyah. Dan adakala ayat-ayat dari surat Makkiyah yang turun di Madinah, sebagaimana ada ayat-ayat dari surat Madaniyah yang turun di Mekah, sebagaimana pula setiap ayat dalam Al-Qur’an mempunyai cirri-ciri sendiri dengan cirri-ciri itu dapatlah kita menggolongkan ayat-ayat itunke dalam golongan Makkiyah atau ke dalam Madaniyah.
Memang perlulah kita memperhatikan seluruh surat dan seluruh ayat untuk mengetahui Makkiyah atau Madaniyah dengan memperhatikan cirri-ciri khas dari ayat-ayat itu.
Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah adalah suatu hal yang harus di perhatikan benar-benar. Untuk dapat menentukan marhalah-marhalah Islamiyah dan mengetahui langkah-langkah yang beransur-ansur di tempuh oleh Al-Qur’an dan dapat pula kita mengetahui persesuaiannya ayat-ayat itu dengan lingkungan Makkiyah dab Madaniyahserta dapat pula kita mengetahui uslub-uslub Makkiyah dan Madaniyah dalam mengahadapi orang mukmin , orang Musyrikin dan Ahli kitab.
Seorang mufasir haruslah ,mengetahui ayat-ayat yang turun di Mekkah mengenai penduduk Madinah dan ayat-ayat yang turun di Madinah mengenai penduduk Mekkah. Kemudian ayat-ayat yang turun di Al Juhyah (sebuah koya kecil lebih kurag 4 marhalah dari Mekkah) ayat-ayat yang turun di Baitul Maqdis, yang turun di dha’if, dan Hudaibiyah dan yang turun di malam hari, yang turun di siang hari, yang turun dengan di antar oleh srjumlah malaikat. Dan harus pula di ketahui ayat-ayat Makkiyah yang terdapat dalam surat-surat Madaniyah dan ayat-ayat Madaniyah yang terdapat dalam surat Makkiyah. Demikian pula ayat-ayat yang di bawa dari Mekkah ke Madinah dan dari Madinah ke Makkah, dan dari Madinah ke Habsyah , yang turun secara mujmal , yang di turunkan secara marmuz (secara isyarat). Kemudian yang di perselisihkan karena ada yang mengatakan Makky dan ada yang mengatakan Madany. Semua itu ada 25 macam. Orang yang mengetahuinya dan tidak dapat membedakannya yang satu dengan yang lain, tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an. Demikian di terangkan oleh Al-Zarkasyi dalam kitab Al-Burham.
Dengan pemeriksaan yang mendalam para ulama dapat membedakan antara ayat-ayat yang mirip dengan ayat-ayat yang turun di Madinah yang terdapat dalam surat Makkiyah dan ayat-ayat yang mirip dengan ayat-ayat Makkiyah, yang terdapat dalam surat Madaniyah.
Maka tidak harus kita menganggapnya, ayat Madaniyah walaupun ayat itu mirip dengan ayat Madaniyah. Yang turun di Madinah, maka janganlah kita mengatakan ayat makkiyah, walaupun ayat itu mirip dengan  ayat yang turun di Mekkah. Dan kadang-kadang ada kemiripan antara ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah, menyebabkan pebahas-pembahas yang terlalu cepat bertindak tidak lagi memperhatikan fase-fase yang penting dalam sejarah dakwah Islamiyah. Tetapi ulama-ulama yang kepercayaan telah menjelaskan yang demikian itu dengan sempurna. Oleh karena itu maka tiap-tiap lafal ada maknanya.
Kita berpendapat, sesudah kita memperhatikan bagaimana ketanya ulama-ulama kita dalam menyelidiki ayat-ayat Mekkah dan ayat-ayat Madinah, bawa riwatay-riwayat yang shahih itulah satu-satunya jalan dalam menertibkan surat-surat Al-Qur’an dari masa ke masa, sedang riwayat-riwayat itu pula di sampaikan oleh para sahabat yang mendengar sendiri, atau  oleh tabi’in yang mendengar sendiri dari sahabat.
Rasul sendiri tidak menerangkan apa-apa tentang hal itu, karena yang demikian itu, tidaklah merupakan tugas Rasul dan tidak pula merupakan ilmu yang wajib di ketahui oleh semua umat.
Kita tidak dapat meragui, bahwa kebanyakan sahabat mengetahui dengan sempurna mana yang Makkiyah dan mana yang Madaniyah yang memungkinkan mereka  meneliti secara keseluruhan, yang mana hasil-hasil penelitian mereka terdapat dalam kitab-kitab tafsir bil-matsur dan kitab-kitab ulumul Qur’an.
Kita dapat menetapkan, bahwasannya para sahabat mempunyai ilmu yang luas dalam bidang ini.



BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1.    Ilmu al Makki wa al Madani di definisikan sebagai ilmu yang membahas klasifikasi surat-surat dan ayat-ayat yang di turunkan di Makkah dan Madinah.
2.     Makkiyah adalah ayat/surat yang turunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunya di luar Makah Sedangkan  Madaniyah adalah surat atau ayat yang di turunkan sesudah Nabi Hijrah, meskipun turunnya di Mekkah
3.    Ciri-ciri khas yang membedakan antara surat madaniyah dan Makkiyah ada yang bersifat qath’I dan ada yang bersifat aghlabi
4.    Perbedaan Makkiyah dan Madaniyah di lihat dari tiga macam pandangan di lihat dari segi turunnya, segi tempat turunnya, segi sasarannya.




















DAFTAR PUSTAKA

Zuhdi,Masjfuk. 1997. Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya: CV. KARYA            ABDITAMA
Ash Shiddieqy,Teuku Muhammad Hasby. 2002. Ilmu-ilmu Al Qur’an, Semarang: PT. PUSTAKA RIZKI PUTRA
Muhammad, Ismail. 2002. Prinsip-prinsip Pemahaman Qur’an dan Hadits.             Jakarta: KHAIRUL BAYAN
Syekh Manna, Al-Qaththani. 2008.  Pengantar Study Ilmu Qur’an. Jakarta:            PUSTAKA AL-KAUTSAR
Manna’ Khalil, Al-Qattan. 2010. Study Ilmu-ilmu Qur’an. Jakarta: PT.PUSTAKA             LITERA ANTARNUSA



[1] Drs. H. Masjfuk Zuhdi.1997. Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya: KARYA ABDITAMA hal 64
[2] Muhammad Ismail. 2002. Prinsip-prinsip Pemahaman Qur’an dan Hadits. Jakarta: KHAIRUL BAYAN 103-105
[3] Drs. H. Masjfuk Zuhdi.1997. Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya: KARYA ABDITAMA hal 71-73
[4] Manna Khalil Al-Qattan. 2008.  Pengantar Study Ilmu Qur’an. Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR hal 81-82

[5] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. 2008. Pengantar Study Ilmu Qur’an. Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR hal  73-75

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar