Rabu, 21 Maret 2012

Karakteristik Memilih Strategi Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pembelajaran sebagai kegiatan untuk mencapai tujuan instruksional, jenis dan prosedur kegiatannya, membutuhkan rangkaian pemikiran yang cermat. Rangkaian pemikiran yang cermat itu, diperlukan agar jenis dan prosedur kegiatan yang dipilih dan ditetapkan nantinya mempunyai nilai fungsional yang tinggi sebagai alat untuk pencapaian tujuan. Terlebih lagi, faktor-faktor yang ikut terlibatkan dalam kegiatan pembelajaran sangat beranekaragam, maka kecermatan itu diperlukan, agar koherensi hubungan antar faktor tersebut, dapat sinergis dalam pencapaian tujuan. Kegiatan guru yang berkenaan dengan penelusuran, pemilihan jenis dan prosedur kegiatan serta lain-lain pendukung kegiatan pembelajaran tersebut, lazimnya disebut kegiatan pemilihan strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran secara substansial berwujud jenis dan prosedur kegiatan serta lain-lain yang merupakan implikasi dari jenis dan prosedur yang menyertainya. Namun, makna strategi tidak diletakkan pada jenis dan prosedur kegiatan itu sendiri, tetapi ada pada nilai strategis- fungsional, berkenaan dengan fungsinya sebagai alat dan wahana pencapaian tujuan pembelajaran. Nilai strategis-fungsional yang dimaksud, diukur atas dasar kadar keefektifan dan keefisiensinya sebagai alat untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Jenis dan prosedur kegiatan yang tidak bernilai strategis-fungsional untuk tercapainya tujuan, maka jenis dan prosedur kegiatan tersebut tidak bermakna strategi.
Berkenaan dengan hal strategi pembelajaran, teks dalam tulisan ini berisi paparan tentang jenis dan prosedur kegiatan pembelajaran yang bernilai fungsional-strategis sebagai alat untuk pencapaian tujuan instruksional. Lingkup paparan diawali dari penglihatan secara rinci realita substansial kegiatan-kegiatan serta unsur-unsur yang di bangun dalam proses pembelajaran. Kupasan konseptual tentang hakekat strategi dan keterkaitannya dengan komponen lainnya diuraikan secara cermat untuk memudahkan pemahaman pembaca. Paparan dilanjutkan ke kajian tentang prinsip-prinsip dan pendekatan pembelajaran yang menjadi landasan asumsi dan paradigma dasar proses pembelajaran. Pola dan model-model bangunan proses pembelajaran dipaparkan di kajian berikutnya untuk acuan dalam penelusuran pola dan model pembelajaran yang relevan dengan karakteristik tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Paparan berikutnya berturut-turutberisi sajian tentang jenis dan prosedur penggunaan metode-metode pembelajaran.
Teks paparan tentang strategi pembelajaran ini, diperuntukan mahasiswa calon guru dan guru-guru. Namun demikian, siapapun yang berkeinginan untuk mendalami persoalan strategi pembelajaran, dapat pula mengaji dari teks ini. Utama sekali, teks ini dipersiapkan sebagai bahan ajar peserta akta mengajar. Bagi peserta akta mengajar buku ini sangat membantudalam memahami strategi mengajar, mengingat paparannya disusun secara sistematis dengan uraiannya bersifat rinci. Semoga bernilai dan bermanfaat.
B.     Raumusan Masalah.
1.      Kriteri memilih strategi pembelajaran
2.      Strategi Pembelajaran Agama  Sebagai Kompetensi Komponen Sistem Pembelajara
3.      Strategi Pembelajaran Pendidikan Islam
4.      Teknik Pembelajaran
5.      Pentingnya Memilihan Dan Penentuan Metode Pembelajaran

C.    Tujuan Masalah
Tujuan dari makalah ini agar kita bisa mengetahui dan memahami terhadap strategi pembelajaran pendidikan agama islam. 



BAB II
PEMBAHASA
A.   KRITERIA PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Kriteria pemilihan strategi pembelajaran adalah suatu dasar acuan yang dapat digunakan dalam memilih strategi yang tepat dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai. Orentasi dari pemilihan strategi pembelajaran haruslah pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain itu juga harus disesuaikan dengan jenis materi, karakteristik siswa serta situasi dan kondisi lingkungan dimana proses belajar tersebut akan berlangsung. Terdapat beberapa teknik dan metode yang dapat digunakan oleh guru, tetapi tidak semuanya sama efektifnya dapat mencapai tujuan pembelajaran. Mager (1977) menyampaikan beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam pemilihan strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
A.   Berorientasi pada tujuan pembelajaran
Tipe perilaku apa yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik, misalnya menyusun bagan analisis pemebelajaran. Hal ini berarti metode yang paling dekat dan sesuai yang dikehendaki oleh latihan atau praktek langsung.
Gerlach dan Ely (1990) menyebutkan Tidak ada satu strategi pembelajaran yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang lain. Baik tidaknya suatu strategi pembelajaran bisa dilihat dari efektif tidaknya strategi tersebut dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan demikian, pertimbangan pertama penggunaan strategi pembelajaran adalah berorentasi pada tujuan pembelajaran apa yang harus dicapai.[1]
2. Pilih teknik atau metode pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki saat bekerja nanti (dihubungkan dengan dunia kerja). Misalnya setelah bekerja, peserta didik dituntut untuk pandai memprogram data komputer (programmer). Hal ini berarti metode yang paling mungkin digunakan adalah praktikum dan analisis kasus/pemecahan masalah (problem solving)
3. Gunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan pada indera peserta didik. Artinya, dalam satuan-satuan waktu yang bersamaan peserta didik dapat melakukan aktivitas fisik maupun psikis, misalnya menggunakan OHP. Dalam menjelaskan suatu bagan, lebih baik guru menggunakan OHP dari pada berceramah, karena penggunaan OHP Memungkinkan peserta didik sekaligus dapat melihat dan mendengarkan penjelasan guru.
Selain kriteria diatas, pemilihan strategi pembelajaran dapat dilakukan dengan memperhatikan pertannyaan-pertannyaan dibawah ini:
1.                              Apakah materi pelajaran paling tepat disampaikan secara klasikal (serentak bersama-sama dalam satu-satuan waktu)?
2.                              Apakah materi pelajaran sebaiknya dipelajari peserta didik secara individual sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing?
3.                              Apakah pengalaman langsung hanya dapat berhasil diperoleh dengan jalan praktek langsung dalam kelompok dengan guru atau tanpa kehadiran guru?
4.                              Apakah diperlukan diskusi atau konsultasi secara individual antara guru dan siswa?
Menetapkan berbagai metode dan pendekatan
 
Kondisi Pembelajaran (perlu dirinci berbagai tingkah laku dan keterampilan)
 
Rumusan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
 
Gerlach dan Ely (1990, hal 173) menjelaskan pola umum pemilihan strategi pembelajaran yang didasari pada prinsip efisiensi, efektivftas, dan keterlibatan peserta didik.




Pola Umum Pemilihan Strategi Pembelajaran.
Dijalakan bahwa kriteria pemilihan strategi pembelajaran hendaknya di landasi prinsip efisiensi dan efiktifitas dalam mencapai tujuan pembelajaran dan tingkat keterlibatan peserta didik. Untuk itu, pengajar haruslah berpikir. Strategi pembelajaran manakah yang paling efektif dan efisien dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan? Pemilih strategi pembelajaran yang tepat di arahkan peserta didik dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara optmal.
Secara umum strategi pembelajaran terdiri dari 5 komponen yang saling berinteraksi denan karakter fungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran, yaitu:
1.      kegiatan pembelajar pendahuluan.
2.      Penyampaian inforasi.
3.      Partisipasi peserta didik.
4.      Tes, dan
5.      Kegiatan lanjutan.
Pemilihan strategi pembelajaran hendaknya di tentukan berdasarkan kriteria berikut:
1.      orientasi strategi padaa tugas pembelajaran.
2.      Relevan dengan   isi/ materi pembelajaran,
3.      Metode da teknik yang digunakan difokuskapada tujuan yang ingin dicapai, dan
4.      Media pembelajaran yang digunakan dapat merangsang indra peserta didik secara simultan.
1.Efisiensi
yaitu Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan pemilihan metode yang mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Contoh kasus: Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan strategi inquiry diberikan dengan suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal.
Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga. Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga. 
Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa untuk mempelajari konsep atau prinsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki. Kelak kemampuan ini akan sangat berguna bagi masa depannya.
2.Efektivitas
Pada dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Perlu diingat bahwa strategi yang paling efisien sekalipun tidak otomatis menjadi strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan. 
3. Keterlibatan Peserta Didik
Pada dasamya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tantangan yang dapat membangkitkan motivasinya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran yang besifat inkuiri pada umumnya dapat memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori.
Berdasarkan prinsip student centered maka peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar. Dalam masyarakat belajar dikenal istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang diterjemahkan dari’ SAL (Student Active Learning) yang maknanya adalah bahwa proses pembelajaran akan iebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Dick dan Carey, 1978, hal 108). [2]
Terdapat beberapa hal penting yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik, yaitu:
a.       Latihan dan praktek seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu pengetahuan, sikap atau keterampiian tertentu. Agar materi tersebut dapat terinternalisasi (relatif mantap dan termantapkan dalam diri mereka), maka kegiatan selanjut nya adalah hendaknya peserta didik diberi kesempatan untuk berlatih dan mempraktekkan pengetahuan, sikap, atau ketrampilan tersebut.
b.      Umpan Balik
Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil belajarnya, maka , guru memberikan umpan batik (feedback) terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik yang diberikan oleh guru, peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan itu benar/atau salah, tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
B.   STRATEGI PEMBELAJARAN AGAMA  SEBAGAI KOMPETENSI KOMPONEN SISTEM PEMBELAJARA
Kegiatan pembelajaran pendidikan agama sebagai proses merupakan suatu sistem yang tidak bisa terlepas dari komponen-komponen lainnya. Salah satu komponen dari proses tersebut adalah strategi pembelajaran . strategi pembelajaran pendidikan agama adalah satu strategi yang menjelaskan tentang komponen=komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran penndidikan agama dan prosedur yang akan digunakan bersam dengan bahan-bahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih tepat secara efektif dan efisien. Komponen-komponen umum deri set bahan pembelajara pendidikan agama adalah:
a)      Kegiatan pendahuluan
b)      Kegiatan penyajian, dan
c)      Penutup
Berdasarkan penjelasan di atas, maka kegiatan pebelajaran  pendidikan agama di katakan sebagai suatu sistem karena kegiatan pembelajaran tersebut memiliki komponen-komponen sistem yang secara bersama befungsi untuk mencapai satu tujuan yakni tujuan pembelajaran pendidikan agama. Kompone-komponen sistem pembelajaran pendidikan agama di antaranya meliputi pengajar (guru) agama, siswa, tujuan pembelajaran, bahan ajar, strategi pembelajaran, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Dengan demikian strategi pembelajaran pendidikan agama adalah sebagai komponen sistem dari berbagai kegiatan pembelajaran pendidikan agama, dan kegiata pembelajaran adalah sebagai sistem dari suprasistem pengelolaan program pendidikan.
Selanjutnya konsep sistem tersebut berkembang menjadi beberapa termenologi yaitu:
a)      Pandangan sistem
b)      Pendekatan sistem
c)      Analisis sistem
d)     Sintesa sistem
Dengan demikian dapat dikataakan bahwa program pendidikan agama adalah merupakan suprasistem dan kegiatan pembelajara pandidikan agama adalah suatu sistem. Mengingat bentuk kegiatan pembelajaran beraneka ragam bentuknya maka setiap pengajar seharusnya menentukan peran dirinya sendiri dan peran para siswanya. Peran yang diambil dapat berupa:
a)      Berperan sebagai fasilitator dan siswa belajar secara mandiri
b)      Berperan sebagai sumber nelajar tunggal dan kegiatan belajar siswa tergantung padanya, dan
c)      Berperan sebagai penyaji bahan ajar yang dipilihnya atau yang dikembakannya.
Oleh sebab itu, setiap bentuk kegiatan pembelajaran di atas membutuhkan bahan ajar dan strategi pembelajaran yang berbeda beda.[3]
C.   STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ISLAM
A.    Pentingnya strategi pembelajaran pendidikan islam
Dalam penerapannya pendidikan islam menghadapi tantangan antara lain dalam bentuk kendala penguasaannya ternatasnya fasilitas, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) perkembangan keperibadian siswa dari hari krhari selama belajar, perubahan dan perkembangan masyarakat yang cepat. Pengaruh danterjadinya pergeseran nilai-nilai hidup dalam masyarakat luas dan cita-cita atau kemauan hidup yang lebih sjahtera dari umat manusia. Namun dalam suasana semacam itu para muslimtelah memiliki keyakinan bahwa islam adalah ajaran Allah yang mengandung nilai-nilai tertinggi dan mutlaq kebenarannya.
Tugas pendidikan dalam usaha mencapai cita-cita tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan karena perkembangan dan perubahan dari manusia dan masyarakatnya sa’at ini sangat cepat  sebagai akibat pesatnya kemampuan berpikir manusia. Kemampuan manusia dalam iptek yang di manfaatkan dalam pengembangan industri telah mengubah pola hidup, nilai-nilai yang di anut dan hubungan antar manusia.[4]
Strategi pendidikan islam mengandung pengertian rangkaian perilaku pendidik yang tersusun secara terencana dan sistematis untuk menginformasikan, mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai islam agar dapat membentuk keperibadian muslim seutuhnya. Sebagaimana dipahami bahwa islam adalah satu ajaran atau pentunjuk hidup yang baik dan benar dari Allah untuk manusia yang di sampaikan oleh Rosulullah SAW. Dalam ajaran tersebut terkandung nilai-nilai yang mutlak kebenarannya yang sangat dibutuhkan manusia dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat ali Imran ayat 19:
“Sesungguhnya agama yang diridhoi pada sisi Allah ialah islam.
Demikian dalam sapda nabi:
“Aku tinggalkan dua pusaka, yang apabila kamu ikuti petunjuknya kamu tidak akan tersesat. Dua pusaka itu adalah Al-Qur’an dan Sunnahku.
D.   PENDEKATAN PENDIDIKAN ISLAM
1.      Pendekatan Filsafat Islam
Pendekatan ini menekankan pada keyakinan, bahwa islam adalah wahyu Allah yang maha kuasa, sehingga kita tidak perlu meragukan dan yakin bahwa segala isi wahyu tersebut mengandung kebenaran yang mutlak.
2.      Pendekatan Sosiologi.
Sebagaimana di kemukakan di atas pendidikan islam sebagai pengendali atau pengarah perilaku menusia terhadap tuntutan perubahan sosial, dimana iman dan takwa menjadi landasan dalam penerapan atau pengamalannya dalam masyarakat.
3.      Pendekatan Pedagogis.
Pendidikan islam sebagai kegiatan yang merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam ranka usaha pembentukan usaha manusia yang berahlak mulia. Peristiwa tersebut merupakan suatu rangkaian kegiatan komonikasi antar manusia yaitu rangkaian kegiatan pengaruh-mempengaruhi.
4.      Pendekatan sistem
Cara pandang pendidikan islam berdasarkan sistem dapat di gambarkan sebagai proses belajar-mengajar yang dipengaruhi masyarakat islam untuk menghasilkan lulusan yang mampu berperan dalam kehidupannya untuk mempengeruhi dan mengembangkan kehidupan orang islam dalam lingkup kehidupan bangsa.
E.   STRATEGI PEMBELAJARAN MENURUT KONSEP ISLAM
Strategi pembelajaran menurut konsep islami, pada dasarnya adalah sebagai berikut:
1.      Proses pembelajaran dilandasi dengan kewajiban yang di kaitkan dengan niat karena allah.
Niat artinya menyengaja sesuatu serentak dengan mengerjakannya. Tempat dan perilaku niat itu adalah hati, namun sunnah menertainya dengan ucapan lisan untuk membantu pernyataan sengaja yang di dalam itu.(lamuddin Nasution, 1999)
Niat amat berperan dalam memberikan makna dan hukum bagi pelaksanaan suatu amal atau perbuatan. Ia adalah faktor penentu bagi menetapkan sesuatu perbuatan baik, apakah perbuatan tersebut termasuk ibadah atau tidak. Sebagaimana sabda rosulullah SAW yang artinya:
‘Segala perbuatan akan sah menurut niatnya. Dan bagi setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.
2.      Konsep pembelajaran dilandasi dengan niat ibadah.
Dalam ensiklopedi islam yang diterbitkan oleh DEPAG RI terdapat penjelasan bahwa secara lughawi, ibadah berarti mematuhi.’tunduk’ dan berdoa, sedangkan pengertian ibadah secara istilah adalah kepatuhan/ ketundukan kepada zat yang maha kuasa. Dalam pengertian khusus ibadah adalah segala perbuatan yang semua ketentuanya telah ditetapkan dalam al-qur’an dan sunnah nabi, serta tidak menerima perubahan, penambahan ataupun pengurangan.
Landasan ibadah dalam proses pembelajaran merupakan amal soleh, karena melalui peribadahan banyak hal yang akan diperoleh oleh seorang muslim (guru dan murid) yang kepentingannya bukan hanya mencakup indifidual, melainkan bersifat luas dan universal serta tidak membuat dikotomi ilmu umum dan agama, akan tetapi semua ilmu pengetahuan berasal dan harus sesuai dengan nilai uluhiyah.
3.      Didalam proses pembelajaran harus saling memahami posisi guru sebagai guru dan murid sebagai murid
Pendidik hakikatnya adalah bapak rohani (spiritual father) bagi anak didiknya, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia,sekaligus meluruskannya. Oleh karena itu pendidik mempunyai kedudukan tinggi sebagaimana yang dilukiskan dalam hadis nabi SAW. Tinta seorang ilmuan (ulama) lebih berharga ketimbang dengan derajat para syuhada”. Bahkan islam meetapkan pendidik setingkat dengan derajat para rosul.[5]

F.    METODE PEMBELAJARAN[6]
Dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektf dan efisien, mengena padatujuan yang di harapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya di sebut metode pembelajaran. Beberapa teknik pembelajaran adalah:
1)      TEKNIK DISKUSI
Teknik diskusi adalah salah satu teknik teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Didlam diskusi ini proses interaksi antara atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang fasif atau sebagai pendengansetia saja.
2)      KERJA KELOMPOK
Teknik ini adalah salah satu strategi belajar mengajar. Ialah suatu cara mengaja, dimana siswa dalam kelas dipandang sebagai suatu kelomok atau di bagi menjadi beberaa kelompok. Setiap koelomok terdiri dari lima atau enam siswa, mereka bekerja sama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencaai tujuan pengajaran yan telah di tentukan oleh guru.
3)      PENEMUAN (DISCOVERY)
Teknik penemuan yang menurut sund discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengisimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang di maksud proses mental tersebut antara lain adalah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.
4)      SIMULASI
Simulasi adalah tingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang di maksud, dengan tujuan agar orang itu daat mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana oran merasa dan berbuat sesuatu.jadi siswa itu berlatih memegang peran sebagai orang lain. Simulasi mempunyai berbagai macam bentuk pelaksanaan ialah: peer-teaching, sociodrama, psikodrama, simulasi game, dan role playing.
5)      UNIT TECHING
Teknik ini meberi kesempatan siswa untuk belajar aktif dan guru dapat mengenal dan menguasai cara belajar secara unit. Jika tidak ada guru maka pengajaran dapat diatasi dengan adanya pengajaran unit, atau pengajaran proyek, atau disebut pula unit saja.
6)      MICRO TEACHING
Salah satu usaha perbaikan dalam bidang praktek kependidikan yaitu dalam cara dan hasil kerja kita sebagai guru, dimana nenerlukan pengetahuan, keterampilan serta sikap tertentu untuk menjadi guru profisional yang berbeda dengan profesi lain, dengan jalan melaksanakan micri teacihing.
7)      SUMBANG SARAN
Brain storming” berpendapat bahwa Teknik Sumbang Saran adalah suatu teknik atau cara mengajar yan dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru.
8)      INGKUIRY
Inquiry adalah istilah dalam bahasa ingris: ini merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar di kelas. Adapun pelaksanaannya sebagai berikut: guru membagi tugas untuk meneliti sesuatu masalah kekelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka didalam kelompok di diskusikan, kemudian di buat laporan yang tersusun dengan baik.
9)      EKSPERIMEN
Teknik ini adalah suatu cara mengajar, dimana siswa melakukan sesuatu percobaan tentang suatu hal: kemudian hasi pengamatan itu dasampaikan di kelas dan dievaluasi oleh guru. Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang di hadapainya dengan mengadakan percobaan sendiri.
10)  DEMONTRASI
Teknik lain yang hampir sama dengan eksperimen ialah demontrasi, tetapi siswa tidak melakukan percobaan; hanya melihat saja apa yang di kerjakan oleh guru. Jadi demontrasi adalah cara mengajar dimana seorang instruktur atau guru menunjukkan, memperlihatkan sesuatu proses misalnya merebuas air sampai mendidih 100 0C, sehingga seluruh siswa dalam kelas dapat melihat, mengamati; mendengar mungkin meraba-raba dan merasakan proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut.
G.  PEMILIHAN DAN PENENTUAN METODE PEMBELAJARAN
Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efesien, antara guru dan anak didik harus beraktivitas. Anak didik harus memiliki kreativitas yang tinggi dalam belajar, bukan hanya menunggu perintah guru. Dan gurupun harus mengajar dengan giat dan semangat tidak boleh dengan kemalasan.
Guru adalah salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satunya adalah melakukan pemilihan dan pemenuhan metode tertentu yang sesuai dengan tujuan yang akan di capai. Misalnya tujuan pengajaran agar anaak didik bisa menuliskan angka 1s/d 50 maka metode yang sesuai adalah metode latihan, tidak tepat bila guru hanya memakai metode ceramah saja ataupun diskusi, demonstrasi dan lainnya. Jadi dalam proses belajar mengajar guru penting /harus harus melakukan pemilihan dan penentuan metode mengajar dengan mengenal krakteristik (kelebihan dan kekurangan) masing-masing metode pengajaran.[7]


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Strategi pembelajaran adalah cara- cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran.
Dick dan Carey (1978) menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu (1) kegiatan pembelajaran pendahuluan, (2) penyampaian informasi, (3) partisipasi peserta didik, (4) tes, dan (5) kegiatan lanjutan.
Pemilihan strategi pembelajaan yang akan digunakan dalam proses pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Kegiatan pembelajaran pendidikan agama sebagai proses merupakan suatu sistem yang tidak bisa terlepas dari komponen-komponen lainnya. Salah satu komponen dari proses tersebut adalah strategi pembelajaran
Strategi pendidikan islam mengandung pengertian rangkaian perilaku pendidik yang tersusun secara terencana dan sistematis untuk menginformasikan, mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai islam agar dapat membentuk keperibadian muslim seutuhnya. Sebagaimana dipahami bahwa islam adalah satu ajaran atau pentunjuk hidup yang baik dan benar dari Allah untuk manusia yang di sampaikan oleh Rosulullah SAW.
Pendekatan ini menekankan pada keyakinan, bahwa islam adalah wahyu Allah yang maha kuasa, sehingga kita tidak perlu meragukan dan yakin bahwa segala isi wahyu tersebut mengandung kebenaran yang mutlak.
Dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektf dan efisien, mengena padatujuan yang di harapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya di sebut metode pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA

Universitas Satya Wacana, Mecro Teaching Yang Dipraktekkan, Salatiga, 1997.
Winarno Surachmad Msc. Ed. Prof. Dr., Dasar Dan Teknik Interaksi Mengajar Dan Belajar, Seri Pembaharuan, Penerbitan Terseto, Bandung,1973.
Muhaimin. Sjahminan Z. 1991. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia. Jakarta. Kalam Mulia
Abdul Ghofir. 1987. Proses Belajar Mengajar: Serial Metodologi Pendidikan Agama. Diklat Kuliah Fak. Tarbiyah. Malang: IAIN Sunan Ampel.
H, Muziyyin Ariffin, 1991, Ilmu Pendidikan Islam, Suatu Tujuan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Penerbit. Bumi Aksara, Bandung.
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2005



[1] Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd. Model Pembelajaran, Hal 7
[2] Ibid. 7
[3] Drs. Muhaimin, MA. :Strategi Belajar Mengajar  Hal 103
[4] Drs. Muhaimin, M.A: Dasar-Dasar Kependidikan Islam
[5] Prof PUPUH FATHUROHMAN. Srategi Belajar Mengajar Hal 127.
[6] Drs. Roestiyah, K.K. Strategi Belajar Mengjar. Hal 5.
[7] Anissatul Mufarokah, M. Pd,I: Strategi Belajar Mengajar Hal  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar